Mahar...Oh...Mahar...
Atau ada yang bermimpi ingin membelisesuatu yang kelak menyenangkannya dan tak akan pernah ia lupa seumur hidup,bahkan jika hancur sekalipun. Namun ketika masing-masing kita kembalimemikirkan apakah harus seperti itu, yang muncul gelak tawa dan kembaliberucap; Mahar itu harus disesuaikan dengan kemampuan calon suami yang telahbersedia melamar.
Wahai Perempuan,,,Sungguh tak tahudiuntung, jika jelas-jelas calonmu itutak bisa membawa sebuah gunung, lalu kau memintanya dipanggul kehadapanmu,bagaimana pun caranya, bukankah itu mendholiminya?
Dari berbagai adat di Indonesia,mahar memang memiliki masing-masing takarannya. Di Flores misalnya, dari sebuahartikel yang pernah saya baca blog Sarah Mantovani,dikatakan mahar mereka berupa gading gajah yang sebuahnya bisa berkisar 10-15juta bahkan ratusan juta. Toko-toko tempatnya menjual pun semakin langka, jadibisa berpengaruh sekali pada harga yang semakin membumbung tinggi. Mengenai ketidaksanggupancalon pengantin pria pun tetap diberi dengan mencicil, walau caranya masihberagam.
Ada yang harus bekerja di keluargapihak wanita sampai lunas, ataupun beban itu akan diberikan dan dipikul padacucu mereka nantinya. Ah keringananini bisa dikategorikan dalam jenis apa? Saya tidak berani meraba.
Lain Flores lain adat Banjar. prosesi adat yang mengharuskan uang yang diberikandihambur dalam sebuah tempat, dilihat banyak orang yang hadir, laludihitung ramai-ramai.
Tak jarang, jika kekurangan yangdiinginkan belum terpenuhi, sedangkan waktu dan hari acara hantar jujurantak bisa diundur, keluarga mempelai priameminjam untuk beberapa ‘jam’ saja atau setelah selesai acara menaruh ditempatterbuka dan diperlihatkan banyak orang, maka uang akan langsung dikembalikanpada pihak terpinjam. Yang penting sudah dilihat oleh para tamu undangan yanghadir di acara jujuran.
Dan semakin banyak jumlahnya, semakinterlihatlah kemapanan calon pria yang akan meminang, lalu –sepertinya– semakintampak jelas nasib yang akan mereka jalani kedepannya. Walaupun semuanya takbisa luput dari yang namanya takdir. Bukankah kebahagiaan tak bisa selamanyaditakar dengan materi?
Lain di Flores, Lain Halnya di Aceh.Di sana, biasanya Mahar diistilahkan dengan Jeulamee ‘Mayam”, bahkan berbicaramayam pada pemuda Aceh yang mapan, sungguh hal yang tidak boleh dianggapenteng,,coba bayangkan saja, jika calon dara baro yang akan dipinang, Mayamnyamencapai 20, 30 Mayam, ataupun 40 Mayam, apa kata dunia?,,,( 1 Mayam = 3, 3GramEmas Murni, X 20 Mayam x 1,4 Jta Rupiah ==..???92 JtRupiah....//),,,Geleng-Geleng kepala kan jadinya,,,,Tapi itulah Mahar,,,OhMahar,,,,,
Terlebih itu menyangkut mahar. Pernikahan itu mesti diawali dengan mahar. Mahar yang tidakmemberatkan, yang tidak neko-neko, kami percayai sebagai awal kehidupanpernikahan yang kelak tak akan berat apalagi neko-neko. Walaupun kita tetaplahmanusia biasa yang akan menjalani segala takdir. Dan bukankah Rasulullahmengatakan;Seorang wanita yang penuh barakah dan mendapat anugerah Allah adalahyang maharnya murah, mudah menikahinya, dan akhlaknya baik...(saduran dari link ini)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar